Liburnya Jumat, Bukan Ahad

Jadi wali santri baru itu ‘ngeri-ngeri sedap’. Apalagi seperti saya yang statusnya karyawan. Bukan apa, selain harus menyesuaikan diri meninggalkan anak dididik 24 jam sehari, juga harus paham aturan yang berlaku di pondok. Soal waktu libur misalnya, harus pinta-pintar mengatur jadwal.

“Liburnya Jumat, bukan Ahad,” sergah istri saya mengingatkan.

Nah, di pondok memang punya aturan sendiri soal waktu rehat para santri. Apa pasal hari Jumat jadi waktu istimewa, saya kurang paham. Sedikit referensi dari rumaysho.com, Jumat ternyata adalah ‘hari raya’ bagi kaum muslim.

Hari Jum’at juga adalah hari ‘ied (hari raya) kaum muslimin setiap pekannya. Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada Jibril, “Hari apa ini?”. Jibril pun menjawab,

هَذِهِ الجُمُعَةُ جَعَلَهَا اللهُ عِيْدًا لَكَ وَلِأُمَّتِكَ

Hari ini adalah hari Jum’at yang Allah jadikan sebagai ‘ied (hari raya) bagimu dan umatmu.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya. Hasan)

Tapi entah apakah itu menjadi rujukan utama, atau ada hal lain yang saya belum dapatkan dari muddabir PMDG Kampus 2. Yang jelas, bagi karyawan macam saya jadi harus pandai-pandai mengatur waktu kerja bila ingin mudhif (berkunjung) melepas rindu.

Seperti halnya Jumat awal bulan lalu. Perlu stamina dan atur waktu yang baik. Sebab untuk ke Ponorogo dari Jakarta, sedikitnya membutuhkan waktu 12 jam bila menggunakan bis. Pun demikian bila memakai moda transportasi kereta. Jakarta-Madiun ditempuh dalam waktu 9-10 jam. Itupun baru sampai Madiun, dan harus dilanjut dengan bus (1 jam).

Pilih memakai pesawat? Ponorogo tak punya landasan pacu. Terdekat di Maospati, itupun hanya pesawat militer. Alhasil, untuk ke Ponorogo, pilih jurusan Solo. Memang lebih cepat, hanya 1,5 jam. Tapi, harganya antara Rp 500-1 juta sekali jalan. Nah, Solo ke Ponorogo masih harus disambung dengan bus selama 3 jam.

Makanya, kalau mau mengejar waktu Jumat di sana, sedikitnya mesti izin dua hari kerja: berangkat Kamis, tiba Jumat bila naik bis. Agar waktu plesir dengan anak bisa dilakukan di hari Jumat.

Karena waktu plesir juga dibatasi, maka harus pula pandai-pandai mengatur waktu di hari Jumat itu.

“Lebih baik kalau mau keluar Pondok, setelah shalat jumat. Antara pukul13.00-16.00,” saran istri saya.

Saran-saran itupun saya turuti. Hasilnya menggembirakan. Waktu 3 jam di luar pondok terasa mengasyikkan. Maklum Ponorogo kota yang sepi. Tak ada macet, tak ada mobil berderet. Jarak 5 km bisa ditempuh dalam waktu 20 menit.

Maka, lepas belanja di Latansa (departemen store milik Gontor), saya dan anak segera menuju warung pecel Pojok di jalan Soekarno Hatta.

“Aku makan pecel pakai empal dan minum es teh manis. Kerupuknya satu,” ujar anak saya selesai menyantap pecel nikmat itu.

(Ampera, Dzulqaidah 1440H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s