Menghampiri Seruan Ilahi

Adzan maghrib berkumandang. Ratusan santri dan -sedikit wali santri yang tersisa- bergegas menuju masjid Gontor 2, di Madusari, Ponorogo, Jawa Timur. Tujuannya satu: memenuhi panggilan Ilahi untuk bersama-sama menghadap Sang Pencipta.

Di pelataran, riuh rendah suara para santri. Tidak demikian ketika masuk di dalam Masjid Gontor 2 yang berdiri megah. Bangunan yang saya perkirakan berukuran 1.000 meter persegi ini memang tak pernah sepi dari jamaahnya. Dalam hitung-hitungan kasar saja, andai setiap angkatan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kampus 2 berjumlah 400 santri, kemudian dikalikan 6 angkatan, totalnya mencapai 2.400 santri.

Awal Juli lalu, saat saya mudhif (berkunjung), masjid terlihat penuh sesak.

“Santri kelas 1, di shaf paling depan, terus berurutan yg paling belakang kelas 6,” sebut salahsatu santri yang berbalut jas dan sarung. Pakaian yang biasa dipakai sebagai identitas bahwa dia adalah santri kelas 6.

Jajaran shafnya memang terlihat rapi. Lepas azan, tanpa komando, lajur-lajurnya langsung terisi. Tiba tempat yang ditentukan, santri menggelar sajadahnya. Tidak utuh, tapi separuh.

Awalnya saya bingung, mengapa menggelar sajadah di masjid tanpa karpet itu hanya separuh? Belakangan saya paham, gelaran itu hanya sementara. Selesai shalat sunnah rawatib, biasanya saat shalat fardhu shaf bergeser lagi.

Tapi bukan cuma soal kerapian dan ketertiban yang membuat saya berdecak kagum. Penuhnya shaf shalat fardhu itulah yang bikin hati ini bergetar: andai seluruh masjid di Indonesia selalu penuh saat shalat wajib, alangkah berkahnya negeri ini.

Gontor sekali lagi memberi saya pelajaran berarti. Soal menghadap Illahi menjadi lebih berarti ketimbang aktivitas duniawi.

“Bapak-ibu jangan khawatirkan kondisi anak di sana (Gontor). Anak kita insya Alloh sedang diajarkan lebih mendekat ke Alloh SWT. Coba deh kalau lagi mudhif, anak-anak diajak ke masjid buat shalat jamaah. Nah kalau di sekolah umum, kan enggak seperti itu,” tulis salahsatu wali santri dalam WA group khusus wali santri baru.

Mari nak, kita dekati Sang Pencipta!

(Pangakalan Jati, Dzulqaidah 1440H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s