Jiwa Usaha Sejak Belia

Ada yang menarik saban Gontor 2 bikin gelaran: banyak santri yang menggelar dagangan. Saya jadi ingat, persis di kampung-kampung atau bahkan di event konser besar, para pedagang adalah hiburan lain dari hajatan sebenernya.

Bagaimana tidak, kita bisa menemukan aneka cemilan rasa ‘kampung’ yang membawa ke masa kecil dulu. Rasanya tak ada habis-habis mengitari aneka dagangan itu. Selama masih ada duit, bisa kita mencicipinya.

Nah, juga demikian ketika sore sebelum berlangsung Panggung Gembira di Gontor 2. Malam saat para santri kelas 6 sibuk pentas menyiapkan acara , saya menemukan kesibukan santri lain di bawah tenda depan Rayon Andalusia. Adakah mereka menyiapkan gelaran untuk malam itu?

Nyatanya tidak. Mereka tengah bersiap untuk menggelar dagangan yang akan dijajakan.

“Sosisnya taruh sini nanti, panggangnya di belakang,” ujar Santri yang bertubuh besar.

Yang diperintah, manut saja. Segera perlengkapan lain disiapkan. Ada yang mulai mengeluarkan botol-botol saos dan kecap, ada pula yang mulai menata mie instan siap seduh.

“Bikin apa ini?” tanya saya iseng.

“Oh..kami jualan Pak,” jawab salahsatu Santri kepada saya. Sambutannya khas, gaya menjawabnya santun, sembari sedikit menundukkan kepala. Tak lupa, dua tangannya bersedakep menutupi bagian bawah perut.

“Jual apa?”

“Makanan dan minuman,” jawabnya lagi.

“Ini apa?” Kata sata sembari menunjuk satu termos isi air berwarna pink.

“Sirup dingin pak,” jawabnya.

“Ya udah…mau beli ya. Ada sosinya ya? Satu juga deh. Jadi berapa?” tanya saya.

“Sirup Rp5.000 dan sosis Rp10.000, jadi Rp15.000,” ujarnya.

Berdagang memang menjadi salahsatu hal yang dipupuk di Gontor. KH. Iman Zarkasyi, salahsatu dari Trimurti, pendiri Pondok Modern Darussallam Gontor, memandang, berwirausaha adalah hal mulia.

“Cara menutupi kebutuhan hidup dengan usaha, bukan dengan cara naik pangkat,” katanya.

Maka, sejak mula para santri ini pun banyak diajarkan mengenai usaha. Karena dalam berdagang diyakini banyak hal yang bisa dipelajari. Paling nyata adalah melatih mental dan kesabaran. Selain itu, pedagang juga harus pandai memetakan kebutuhan pasar.

Misalnya saja, malam itu selain sosis dan sirup, ada mie instan siap seduh, dan juga aneka cemilan yang jarang ditemui para santri: jagung rebus berlabur keju dan susu.

Selain menyiapkan makanan, mereka juga harus mengatur produknya agar tak keteteran. Seperti kejadian malam itu, selain para santri pedagang harus melayani pembeli, mereka juga harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Mulai gelas, es batu hingga membuat racikan sirup. Sementara antrean lumayan panjang. Maka mereka harus memutar otak agar semua bisa terlayani dengan baik.

Saya jadi ingat kembali apa yang dikutip Ustadz M. Ridlo Zarkasyi dalam bukunya “Ajaran Kyai Gontor: 72 Wejangan Hidup KH. Imam Zarkasyi” (Walipustaka, 2019)

“Saudagar berasal dari kata ‘sau'(seribu) dan ‘dagar’ (otak). Maka saudagar adalah orang yang mempunyai ‘seribu otak'” tulis KH. Imam Zarkasyi.

Bila melihat apa yang dilakukan para santri malam itu, boleh jadi bakal banyak bermunculan saudagar dari Gontor. Siapakah mereka?

(Ampera, Dzulqaidah 1440H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s